Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Januari 2017

Dulu
Kau dan aku di tempat yang sama
Hampir setiap hari
Nafasku menderu-deru atas senyumanmu
Kehangatanmu menggugah hasratku
Kutemukan titik terang akan indahnya kehidupan
Merasa diinginkan
Membaur dalam hiruk-pikuk keramaian

Sekarang
Kau disana, aku disini
Lama sudah
Nafasku tertahan pelan tanpa senyumanmu
Kehangatanmu tak bisa kurasakan, membenamkan hasratku
Aku mematung dalam tidurku, menunggu datangnya kehangatan yang tak pasti
Merasa terbuang
Menyendiri dalam heningnya sunyi

Jumat, 30 Desember 2016

Menyelisik peristiwa mendatangkan hampa
Sulit melupakan maka pergilah
Dermaga mengundang kebebasan
Camar menari indah di kejauhan
Menghujam lautan menaruh asa

Kelamnya masa tak menambah rintangan, tak jua meniadakan 
Lepaskan amarah binasakan rasa

Rasa meruntuhkan jiwa
Pikiran meneguhkan asa
Amarah menumbuhkan dahaga
Nurani melenyapkan dengki

Minggu, 25 Desember 2016

Melangkahlah ke sudut jendelamu
Berdirilah disana
Gunakan mata hatimu
Rasakan

Angin itu telah menaklukkan berbagai rintangan
Hembusannya hanya menyampaikan pesan berharga
Dari seseorang yang berharga bagimu
Pesan itu ditulis dengan air mata
Yang menguap dibawah teriknya matahari
Menyeruak diantara hamparan awan
Menyelinap dalam sayap-sayap angin
Jangan sia-siakan


Sabtu, 24 Desember 2016

Flo

Aku hasratnya
Pujaan hatinya
Yang mengilhami goresannya
Walaupun samar tuturnya

Dia curahkan untukku selalu
Dia sebut nama kecilku
Rasa mengadu itulah aku
Berdetak nadiku

Lama tiada namaku dalam goresan penamu
Oh jiwaku, ada apa denganmu?
Kenapa kini engkau?
Dengarlah bisikan hatiku

Kau luluhkan beku hatiku
Kau rekahkan senyumku
Ke awan tinggi kau terbangkanku
Oh, katakan padaku, sesakkah benakmu?

Hapus gelisahku
Luruskan benakmu
Goreskan penamu
Detakkan nadiku

Melayangku dalam khayalan
Menelisik dalam kegelapan
Termenung atas bayangmu
Kenapa gerangan dirimu?


Di sudut ruangan jiwa-jiwa riuh beradu
Sesekali hening mencuri waktu
Di awal waktu perkenalan syahdu menyapa
Ada kehangatan sendirinya tercipta

Satu-persatu tersungging senyum madu

Kupancarkan emosi kemudian kau redam
Banyak meredam emosimu terpancar
Senyum menahan tawa, kupancing emosimu terbang ke awang
Senyumanmu pun merekah memberi maklum

Tatapan mata saling menggapai
Sorot mata mengamati dalam diam
Sesekali kukirim ombak pada ketenangan jiwanya
Begitupun kau
Bersama-sama kita goyang kemudinya
Kita tertawa
Kau dan dia bersekutu kemudian 
Mengirim ombak menggoyang kemudiku
Kita tertawa
Dengan kilat dia goyang kemudimu
Dengan senang kukirim letupan kecil
Lagi tertawa

Demikianlah selanjutnya
Jiwa-jiwa riuh beradu
Menunggu pagi menjelang waktu
Berkelana meninggalkan luka
Kereta apiku menjauhi hiruk-pikuk
Kulewati malam penuh tanya
Sunyi diantara keramaian

Kusembunyikan jejak hidup
Merekahlah kesegaran hidup

Aku sampai pada peraduanku
Takkan kubiarkan kau mengikutiku
Ku harus menghapusmu, alam kan membantuku
Hati terluka tak sudi diganggu
Laki-laki mana yang tak mendidih?
Ah... Sudahlah...!