Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Januari 2017

Dulu
Kau dan aku di tempat yang sama
Hampir setiap hari
Nafasku menderu-deru atas senyumanmu
Kehangatanmu menggugah hasratku
Kutemukan titik terang akan indahnya kehidupan
Merasa diinginkan
Membaur dalam hiruk-pikuk keramaian

Sekarang
Kau disana, aku disini
Lama sudah
Nafasku tertahan pelan tanpa senyumanmu
Kehangatanmu tak bisa kurasakan, membenamkan hasratku
Aku mematung dalam tidurku, menunggu datangnya kehangatan yang tak pasti
Merasa terbuang
Menyendiri dalam heningnya sunyi

Jumat, 30 Desember 2016

Menyelisik peristiwa mendatangkan hampa
Sulit melupakan maka pergilah
Dermaga mengundang kebebasan
Camar menari indah di kejauhan
Menghujam lautan menaruh asa

Kelamnya masa tak menambah rintangan, tak jua meniadakan 
Lepaskan amarah binasakan rasa

Rasa meruntuhkan jiwa
Pikiran meneguhkan asa
Amarah menumbuhkan dahaga
Nurani melenyapkan dengki

Minggu, 25 Desember 2016

Melangkahlah ke sudut jendelamu
Berdirilah disana
Gunakan mata hatimu
Rasakan

Angin itu telah menaklukkan berbagai rintangan
Hembusannya hanya menyampaikan pesan berharga
Dari seseorang yang berharga bagimu
Pesan itu ditulis dengan air mata
Yang menguap dibawah teriknya matahari
Menyeruak diantara hamparan awan
Menyelinap dalam sayap-sayap angin
Jangan sia-siakan


Sabtu, 24 Desember 2016

Flo

Aku hasratnya
Pujaan hatinya
Yang mengilhami goresannya
Walaupun samar tuturnya

Dia curahkan untukku selalu
Dia sebut nama kecilku
Rasa mengadu itulah aku
Berdetak nadiku

Lama tiada namaku dalam goresan penamu
Oh jiwaku, ada apa denganmu?
Kenapa kini engkau?
Dengarlah bisikan hatiku

Kau luluhkan beku hatiku
Kau rekahkan senyumku
Ke awan tinggi kau terbangkanku
Oh, katakan padaku, sesakkah benakmu?

Hapus gelisahku
Luruskan benakmu
Goreskan penamu
Detakkan nadiku

Melayangku dalam khayalan
Menelisik dalam kegelapan
Termenung atas bayangmu
Kenapa gerangan dirimu?


Di sudut ruangan jiwa-jiwa riuh beradu
Sesekali hening mencuri waktu
Di awal waktu perkenalan syahdu menyapa
Ada kehangatan sendirinya tercipta

Satu-persatu tersungging senyum madu

Kupancarkan emosi kemudian kau redam
Banyak meredam emosimu terpancar
Senyum menahan tawa, kupancing emosimu terbang ke awang
Senyumanmu pun merekah memberi maklum

Tatapan mata saling menggapai
Sorot mata mengamati dalam diam
Sesekali kukirim ombak pada ketenangan jiwanya
Begitupun kau
Bersama-sama kita goyang kemudinya
Kita tertawa
Kau dan dia bersekutu kemudian 
Mengirim ombak menggoyang kemudiku
Kita tertawa
Dengan kilat dia goyang kemudimu
Dengan senang kukirim letupan kecil
Lagi tertawa

Demikianlah selanjutnya
Jiwa-jiwa riuh beradu
Menunggu pagi menjelang waktu
Berkelana meninggalkan luka
Kereta apiku menjauhi hiruk-pikuk
Kulewati malam penuh tanya
Sunyi diantara keramaian

Kusembunyikan jejak hidup
Merekahlah kesegaran hidup

Aku sampai pada peraduanku
Takkan kubiarkan kau mengikutiku
Ku harus menghapusmu, alam kan membantuku
Hati terluka tak sudi diganggu
Laki-laki mana yang tak mendidih?
Ah... Sudahlah...!

The Pride

Sore itu cuaca panas menyelimuti kamarnya. Suasana di ruangan itu tak hening. Tiada pertanda kehidupan.

Kedua tangan kurus itu begitu tegar menopang buku tebal tepat dihadapannya. Satu jam telah berlalu namun ia masih berkutat pada halaman yang sama. Tubuhnya masih saja bersandar pada kursi sofa merah bercampur abu-rokok itu. Sofa murahan namun cukup empuk. Sebatang rokok terselip tanpa daya dimulutnya. Sesekali menghisap penuh hasrat, lalu diiringi desahan berat yang meniupkan untaian asap berbentuk garis lurus.

Handphone-nya bergetar memecah keheningan diiringi senandung Hungarian Dance No. 5, gubahan maestro Johannes Brahms. Gesekan biolanya begitu menyayat hati. Pilihan tepat merepresentasikan getirnya lika-liku kehidupannya yang tak berkesudahan. Berulang-ulang, hingga akhirnya mengusik jiwanya yang sedang terbang di awang-awang. Lamunannya terhenti.

“Halo!”
“Halo, Beb!” seru Andy.
“Ada apa, Beb?”
“Kau lagi dimana?”
“Di rumah. Kenapa?”
“Datang, dong. Aku kangen nih sama kamu.”

Andy selalu saja mengandalkan rayuan gombalnya. Thamrin hanya bias tertawa. Pantas saja perasaan kaum hawa selalu luluh ketika mendengarnya bicara, pikirnya. Kata-kata manis itu sungguh memabukkan.

“Serius nih!” ia menimpali.
“Memangnya kau lagi dimana?”
“Lagi di tempat Tagor. Ini ada Radot juga.”
“Hah? Serius kau?” ia tak percaya. 

Ia memincingkan mata, mengeryitkan kening. Waspada atas aksi-aksi jahiliah. Bidang tipu-menipu merupakan spesialisasi lawan bicaranya. Hening.

Sadar akan ketidakpercayaan teman bicaranya, Andy berusaha meyakinkan.

“Iya. Dia lagi ada panggilan kerja ….
Tiba-tiba pembicaraan terpotong. Terdengar suara berisik di ujung telepon.
“Halo!” sapa Radot.
“Halo!” sahutnya.
“Datang kemari, dong.”
“Hah! Buat apa?”
“Tak kangen kau samaku?” aksen Bataknya muncul ke permukaan.
“Hahaha ….  Sedang apa kau disini?”
“Ini lagi ada panggilan kerja. Kemarin sudah selesai tes di Bandung.”
“Oh.”
“Datang ya …,” pungkasnya, disusul suara berisik yang tidak jelas kedengarannya.
“Halo! Datang kau, ya? Temani aku besok pagi ke UI,” Andy mencerocos.
“Buat apa? Aku lagi pailit, nih,” jawabnya diplomatis. 

Ia tidak tertarik sama sekali. Ia juga sedang tidak punya uang. Maklum, rekor penganggurannya sudah menjelang tahun ketiga. Teman-temannya sendiri tidak percaya jika dia masih menganggur. Sulit dipercaya lulusan sarjana menganggur selama itu. Namun, ia punya alasan tersendiri jika disamping ketololannya pada bidang tertentu.

“Aku lagi ada panggilan tes. Kita ketemu di Stasiun Tebet. Jam sembilan pagi, ya?”
Sesaat ia menunggu Thamrin yang tampaknya sedang diam berpikir.
“Oke?” ia mendesak lagi.
“Oke!”
“Baik. Sampai ketemu besok!” Sambungan terputus.

Ia kesulitan mengatur waktu tidur yang berbalas pula pada jam bangunnya. Saat itu jam tidurnya berkisar antara jam empat hingga jam lima pagi. Ia menyetel alarm pada handphone-nya. Pertama, pada jam lima pagi. Kedua, pada jam setengah enam pagi.

Berharap agar tidur terlelap, malamnya ia cepat-cepat beringsut menuju tempat tidur. Namun lagi-lagi matanya tak bisa diajak kompromi. Kepalanya selalu saja dihinggapi berbagai macam pikiran. Ia memaksa memejamkan mata. Tidak berhasil. Ia beralih pada cara lain. Ia meraih sebuah buku. Namun lagi-lagi gagal. Kepalanya semakin sakit, terutama disekitar keningnya yang berpusat pada kedua bola-matanya. Ia sangat resah. Akhirnya ia beranjak ke ruang tamu, menonton hingga pagi. 

Ia menguap. Jam dinding menunjukkan pukul empat pagi. Ia malah mengantuk disaat-saat seperti ini. Namun ia sudah berjanji ia sudah berjanji pada Andi. Ia sungguh butuh pekerjaan. Ia harus melawan rasa kantuknya dari alam bawah sadarnya.

Ia merupakan penderita insomnia tingkat akut, dan kemungkinan menderita hipokondria. Ia selalu mengantuk pada pagi hingga sore hari, namun merasa bugar untuk beraktivitas pada sore hari hingga subuh. Pada jam-jam inilah ide-ide revolusioner menghinggapi kepalanya, yang belum sekalipun terwujud sama sekali.
***


Sabtu. Jam setengah enam pagi hari, ia bergegas mandi kemudian berganti pakaian. Setengah jam kemudian ia melahap roti untuk mengganjal perutnya. 

Pukul 06.30, ia meninggalkan rumah, berjalan sekitar lima puluh meter, kemudian menaiki angkutan umum yang lalu-lalang menuju Stasiun Bekasi. Perjalanannya memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. Tidak seperti biasanya, kali itu sopir angkot tidak bolak-balik berhenti menunggu penumpang. 

Hampir satu jam hingga rel kereta api terlihat di kejauhan. Beberapa menit kemudian, ia turun. Kereta Rel Listrik (KRL) sedang mematung di kejauhan. Menunggu hingga jam keberangkatan yang telah ditentukan. Ia berjalan mendekatinya.

“UI satu!” serunya melalui lubang kecil di hadapannya. Ia menyodorkan uang pecahan sepuluh ribu. Sekilas selembar uang kertas dihadapannya berpindah tempat. Satu kartu berwarna putih, selembar struk pembayaran, dan kembalian sebesar dua ribu lima ratus rupiah disodorkan padanya.
"Terima kasih!"

Ia berjalan menuju portal masuk. Meletakkan kartu pada salah satu mesin.  Beberapa petugas satpam dan tentara tampak santai memantau keadaan sekitar.

“Tettt ….” mesin itu mengeluarkan bunyi diiringi portal yang terbuka. Ia melangkah terburu-buru menuju peron. 

Ia masuk gerbong terdekat, lalu menunggu selama lima belas menit hingga pintu menutup. Lalu KRL itu meluncur dengan tenangnya. Stasiun itu merupakan stasiun keberangkatan pertama, namun seluruh gerbong sudah disesaki penumpang.

Handphone-nya berbunyi. Andy menelepon.

“Halo!” sapanya. Ia menyelipkan buku yang sedang ia baca pada ketiaknya.
“Halo! Sudah dimana?”
“Jatinegara. Kau?”
“Ini mau berangkat. Baiklah. Sampai jumpa disana, oke!” jawab Andy terburu-buru.
“Oke.” Sambungan terputus.

Kereta yang melaju perlahan-lahan. KRL sudah tiba di Stasiun Manggarai. Ia harus transit disitu. Pintu terbuka. Ia turun lalu berjalan ke peron seberang mengambil rute arah Depok. 

Ia hanya berdiri termangu. Setengah jam kemudian kereta tujuan Depok akhirnya mendekat.

Perjalanan kali ini cukup lancar. Ia sudah menginjakkan kakinya di Stasiun Tebet ketika jam dinding yang menggantung di peron stasiun menunjukkan pukul 08.43. Ia tiba lebih cepat dari biasanya.

Ia berdiri tegak dan menebarkan pandangan di sekeliling peron. 

“Tak ada,” gumannya.

Ia yakin Andy pasti datang terlambat. Sambil menunggu kedatangannya, ia melanjutkan bacaannya, yang terhenti sejenak ketika ia keluar dari gerbong kereta. “The Devil and Miss Prym, karya Paulo Coelho”. 

Novel itu mengisahkan tentang seorang laki-laki asing yang memutuskan untuk tinggal di sebuah desa terpencil di Amerika Selatan bernama Viscos. Laki-laki itu datang kesana dengan tujuan mencari jawaban atas pergumulan hidupnya. Ia ingin tahu, apakah pada hakikatnya manusia itu baik atau jahat. Ia memutuskan melakukan perjalanan itu setelah istri dan anak-anaknya dibunuh oleh teroris dengan menggunakan senjata yang ironisnya diproduksi oleh perusahaan yang dipimpinnya sendiri. Ia merasa tak pantas menerima kenyataan itu. Lantas, ia sangat kecewa atas kehilangan orang yang paling ia cintai. Kekecewaannya semakin dalam lantaran is selalu bersikap baik. Ia selalu taat hukum, menjalankan bisnisnya sesuai regulasi yang berlaku. Ia merupakan jemaat yang rajin beribadah ke gereja dan jemaat yang selalu perintah-perintah Tuhan. 

Pukul 10.00 pagi itu, KRL tujuan Bogor berhenti sesaat untuk menurunkan dan menaikkan penumpang, lalu melaju lagi. Lagi, Thamrin menebarkan pandangannya ke peron seberang, mencari-cari sosok Andy.

“Itu dia.”

Tampak Andy sedang duduk disebelah Oloando yang duduk tenangnya. Tangannya melakukan steepling di pangkuannya. Sementara Andy memandang ke sekelilingnya, sepertinya ia sedang mencari Thamrin. Tak berselang lama, pandangan mereka bertemu, lantas saling mengumbar senyum.

 “Beb!” panggilnya.

Thamrin melambaikan tangan lalu berjalan menyeberangi peron menuju tempat duduk mereka berdua.

Mereka bersalaman satu sama lain disertai senyum bersahabat.

“Sari buah Carcinia mangostana. Mau?” Ia menyodorkan minuman botol kemasan yang digenggamnya.
 Andy mengernyit dengan bahu terangkat, bibirnya juga mengembang kedepan.  Ia tak tertarik sama sekali.
Thamrin beralih pada Oloando. “Lae?”
“Boleh.” Oloando meraihnya.
Tak sampai lima belas menit, KRL tujuan Bogor telah tiba. 
“Naik, tidak?” tanya Thamrin. 
“Naiklah!” sahut Oloando. Ia berdiri pun menunggu pintu terbuka.
“Kereta yang lain saja,” sahut Andy. Ia masih duduk bersandar pada kursi yang persisi di samping tiang penyangga bangunan peron.

Mendengarnya, Thamrin dan Oloando kelimpungan. Mereka berdua jadi ragu-ragu menaiki kereta yang sudah hendak membukakan pintu.

“Terlambat kau nanti,” Thamrin berseru mengingatkan, “Bagaimana? Naik tidak?” ia jengkel. Ia waswas karena pintu hanya terbuka sesaat, apalagi jika penumpang yang naik dan turun cuma sedikit.

Pintu pun terbuka. Penumpang turun dan naik. “Memang ada-ada saja kawan ini, bah. Naik saja kita, Lae! Biarkan saja kalau dia tidak mau naik. Yang mau ujian itu dia, bukan kita. Nanti dia juga yang repot,”  Oloando menyindir Andy.
“Oke!”

Keputusan mereke berdua bulat. Mereka Thamrin dan Oloando naik. Melihat mereka berdua di dalam kereta, sekonyong-konyong Andy bergegas naik. Ia berjalan menuju tempat duduk mereka berdua.  Perjalanan pun berlanjut menuju Stasiun Universitas Indonesia, Depok.

“Bikin kesal aja kerjaanmu, Pra.”
“Sori dulu, Pra. Padat kali tadi kutengok penumpangnya.”
“Inilah kan, Lae. Sudah tahu mau ujian, tetap saja kawan kita ini milih-milih.” Oloando mencemooh.
“Sabar-sabar sajalah, Lae. Kawan pula yang kita hadapi.”

Begitulah masalah mereka jika melakukan perjalanan dengan KRL, seringkali mereka tiba-tiba  bodoh. Dan biang keladinya adalah Andy dengan kebiasannya yang suka memilih-milih. Terlalu pemilih jika penumpangnya lagi ramai. Tak tahu diuntung.

Setibanya di stasiun Universitas Indonesia, mereka istirahat sesaat. Sempat-sempatnya Andy berceloteh dengan tukang gorengan langganannya. Mulutnya tak bisa diam mencicipi tahu-isi kesukaannya.

“Makan gorengan dulu kita.” pintanya pada mereka berdua, seraya menunjuk berbagai jenis gorengan di depannya.
“Enak, Pra … Sini!” bujuknya.

Mereka berdua mendekat patuh pula, lalu meraih gorengan yang baru dimasak.
Mereka bertiga asyik menguyah sambil memandangi anak kampus yang duduk di halte. Sesekali mereka melirik wanita yang menarik perhatian, disusul bisikan-bisikan pada telinga yang sedang dalam posisi siaga.

Andy mengunyah dengan lahapnya. Seperti sedang kelaparan saja. Padahal matanya sedang celangak-celinguk kesana-kemarin. Ia terbius kecantikan-kecantikan di depannya. Tanpa terasa tujuh gorengan sudah hanyut di mulutnya. Ia kenyang.

“Masih nambah tidak, Pra?”
Oloando menggelelengkan kepalanya.
“Kau, Beb?”
“Tidak.”
Ia beralih pada penjual goreng. “Berapa semuanya, Pak?”
“Lima belas ribu!”
“Aquanya tiga, ya!”
“Jadi dua puluh tujuh!”
“Ini, Pak! Terimakasih!”
 Ia meraih rokok dari saku disusul api kecil koreknya.
“Shhh … hssss ….” Terpancar semangat dari hembusannya. Asap rokok yang masuk ke paru-paru sedikit mengurangi ketegangan yang dirasakannya.
“Ayo!” ia memberi komando pada kedua temannya untuk melanjutkan perjalanan. Kemudian, mereka berjalan kaki menyusuri jalanan yang tampak sepi dibanding hari biasa. Deretan pohon menjulang tinggi di kedua sisi jalan. Mereka berusaha melindungi setiap pejalan kaki yang melintas dengan tabahnya.

Panasnya terik matahari membuat mereka merasa gerah. Sesekali terdengar suara menggerutu dari belakang. Andy memilih bungkam. Beruntung, ada-ada saja wanita cantik melintas di depan mereka di antara gerombolan-gerombolan orang yang sedang lari pagi.

Sesekali mereka menunjuk wanita cantik yang mampu menarik perhatian mereka. Sontak saja wajah-wajah itu berhasil mengubah wajah muram durja mereka menjadi ceria. Beban perjalanan yang dirasakan mereka pun terasa berkurang.

“Ehem … ehem … suit … suit …,” goda mereka, disusul siulan nyaring pada wanita berambut panjang yang datang dari arah berlawanan.

Wanita itu tak menggubris mereka. Ia hanya mengelap keringat di wajahnya dengan handuk kecilnya yang berwarna pink. Namun, Oloando mendapatinya kedua bola matanya melirik ke arah mereka bertiga.

“Mata kami bertemu, Lae!” katanya berseri-seri.
“Ah … perasaan kali kau, Lae.”
“Serius, Lae!”
“Hahaha … Boleh sok ganteng, Pra! Tapi jangan sok dilirik.” Andy menyeringai.
“Gitu kali kau, Pra.”
“Lagian kau, Pra. Tidak ada angin, atau pun hujan, bisa kegeeran gitu.”
“Serius aku, Pra.”
“Ga percaya awak, Pra.”
“Oh. Gitu ya?” Oloando mengernyit dan memasang muka masam.
“Iya… iya…, Pra. Ganteng pun kau, Pra.”

Oloando menegakkan kepalanya tetap sementara mukanya masih terlihat masam. Bolak-balik Andy merayu membujuknya. Ia malah membuang muka. Thamrin hanya bisa menahan tawa melihat rayuan bertubi-tubi Andy yang mental pada Oloando.

Dua puluh menit kemudian, Gedung Fakultas Teknik muncul di hadapan mereka.

***

Kamis, 15 November 2012

UMPAMA BATAK


1.      Risi-risi hata ni jolma, lamot-lamot hata ni begu. = Ucapan manusia itu kasar, tetapi ucapan iblis itu halus lemah-lembut. Ungkapan ini mengingatkan supaya orang jangan cepat tergiur pada kata-kata rayuan yang hanya enak didengar telinga, padahal maksud dan tujuannya untuk menusuk dari belakang atau tipuan.
2.      Jolo nidilat bibir asa nidok hata = Pikir dulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Pikirkan dulu baik-baik barulah ucapkan.
3.      Ndang dao tubis sian bonana. = Rebung tidak akan jauh dari pokoknya.
Ini biasa diucapkan untuk menilai perilaku orang lain atau untuk menyimpulkan mengapa sampai terjadi kelakuan anak seperti itukarena orangtuanya pun seperti itu.
4.      Aek godang aek laut, dos ni roha sibahen nasaut. = Hasil musyawarah untuk mufakat itulah yang terbaik.
5.      Tuit sitara tuit, tuit pangalahona. Molo tuit boru i mago ma ibotona. = Perempuan yang suka mejeng atau berbuat tak senonoh akan mempermalukan saudaranya laki-laki (ibotonya). Karena harga diri  suatu keluarga kelak terletak di tangan anak lelaki bila ayahnya sudah tiada. Jadi, para gadis Batak janganlah sampai terkesan perempuan jalang.
6.      Ndang di ahu, ndang di ho, tumagonan ma di begu. = Tidak untuk saya, tidak juga untuk kamu, lebih baik untuk hantu. Ucapan ini dialamatkan kepada orang yang berhati busuk ketika merasa kalah dalam perebutan harta, kekuasaan atau hak-hak lain. Ia tidak merasa senang kalau temannya sendiri yang mendapatkan, lebih baik pihak ketiga.
7.      Tampulon aek do na mardongan tubu. = Orang semarga itu bagaikan aliran air (sambung-menyambung), jika dicoba diputuskan, sebentar lagi sudah menyatu. Jangan coba-coba mengadu domba atau mencerai-beraikan orang semarga.
8.      Ndang songgop onggang tu hadudu. = Tidak sanggup burung enggang ke padi-padian. Tidak mungkin kehormatan dan kekuasaan datang kepada orang bodoh.
9.      Songon sorha ni padati. = Bagaikan roda pedati. Artinya hidup ini mengalami perputaran, terkadang makmur, jatuh miskin.
*Sorha = alat pemintal benang.
10.  Molo mate ina i, dohot do ama panoroni. = Kalau ibu meninggal, ayah itu pun menjadi ayah tiri. Ini dikatakan untuk mengungkit pengalaman sedih anak-anak yang ditinggal mati oleh ibunya. Jika ayah kawin lagi, maka sang ayah itu pun selalu berpihak pada istri baru.
11.  Purpar pande dorpi bahen tu dimposna. = Tukang kayu betapapun pandainya melakukan pekerjaannya pastilah menimbulkan suara bising , namun membuat rapi hasil kerjanya. Artinya, boleh ribut dulu dengan sesama asalkan semuanya itu menuju kebaikan dan makin mengakrabkan hubungan kekerabatan.
* Purpar = Bising atau berisik seperti memakukan papan ke dinding.
* Dorpi = Dinding
12.  Hata mamunjung hata lalaen, hata torop sabungan ni hata. = Pendapat sendiri adalah pendapat yang tidak wajar, pendapat orang banyaklah yang jadi pedoman, dan jadi keputusan.
*Tarpunjung = terpencil, terkucilkan.
13.  Bolus do mula ni hadengganon, jujur do mula ni hasesega = Cepat melupakan perbuatan yang tidak baik seseorang sumber kebaikan, tetapi suka menghitung perbuatan baik kita menjadi sumber perselisihan.
14.  Situlluk mata ni horbo. =  Cepat-cepat tunjuk hidung atau menunjukkan kesalahan orang lain agar jera dan tidak menghabiskan banyak waktu membicarakannya.
15.  Siat mamiding naeng mamolak. = Diberi ruang atau tempat  untuk tidur menyamping, malah ingin telentang.
16.  Siat jari-jari, naeng siat botohon = Sudah muat jari, masih ingin lagi muat tangan.”. Ini sindiran bagi teman yang tidak puas-puasnya mendapatkan sesuatu.
17.  Tumpakna do tajomna, rim ni tahi do gogona. = Organisasi atau kumpulan akan kuat bila tetap dalam kebersamaan dan seia-sekata.
18.  Sahalak maniop sulu, sude halak marsuluhonsa. = Seseorang berbuat baik, semua orang bergembira karena merasakan hasil perbuatan baik orang tersebut. Ini diucapkan untuk menghargai perbuatan baik seseorang sekaligus mengharap agar semakin banyak orang yang menjadi ”berkat” untuk orang lain.
19.  Tu sundungna do hau marumpak. = Pohon akan tumbang ke arah condongnya. Artinya, seseorang itu akan menjadi seperti apa kelak, akan sesuai bakat, talenta serta amal perbuatannya.
20.  Pitu batu martindi sada do sitaon na dokdok. = Tujuh batu bertindih tetapi satulah menahan paling berat. Ini diucapkan menyadarkan seseorang bahwa pada akhirnya meskipun banyak pendamping tetapi seoranglah menanggung beban terberat.
21.  Tampuk ni pusu-pusu, urat ni ate-ate. = Si buah hati, anak yang paling dikasihi. Artinya, dalam keluarga orang Batak selalu ada anak yang paling dikasihi (anak hasian)
22.  Maraprap na so magulang = Orang yang tidak jatuh, malah ikut terluka. Maksudnya, jangan ikut terlibat dan melibatkan orang lain pada sesuatu yang bukan urusannya.
23.  Sirungrung na dapot bubu, siosari na dapot sambil. = Seseorang yang mau melepaskan terhukum dari hukuman sewenang-wenang.
*Rungrung = membalikkan sesuatu wadah untuk mengeluarkan isinya, misalnya air.
24.  Suhar bulu ditait dongan, laos suhar do i taiton. = Jika seorang teman atau keluarga berbuat salah hendaklah dibela walau dalam hati mengakui hal itu salah. Ungkapan ini sudah jarang diucapkan karena dinilai tidak sesuai dengan paham kasih dan kebenaran.
25.  Eme na masak digagat ursa, ia i namasa ba i ma niula. = Padi siap panen dimakan rusa, apa yang biasa dikerjakan kebanyakan orang itulah kita lakukan. Ungkapan ini juga dianggap melemahkan insiatif orang sehingga makin jarang diperdengarkan.
26.  Miakna panggorengna. = Seperti kebiasaan orang Batak dahulu, karena langka dan mahalnya minyak goreng sehingga minyak/lemak babi itulah dipakai untuk menggoreng dagingnya. Ini dimaksudkan agar seseorang jangan terlalu repot mencari modal usaha. Pergunakan saja apa yang ada, mulailah dari usaha kecil.
27.  Mambuat mas sian toru ni rere. = mengambil emas dari bawah tikar buruk. Maksudnya agar jangan mengambil keuntungan dari jalan terkutuk ( korupsi dan menipu)
28.  Ranggas tumutung bonana. = Mas kawin (sinamot) keluarga pengantin perempuan itulah yang diatur dan dicukup-cukupkan untuk biaya pesta perkawinan.
* Ranggas = ranting kayu yang sudah tua cocok untuk kayu bakar.
29.  Ndang jadi tanjungan ni ina nonang. = Kaum ibu tidak boleh terlalu mencampuri urusan adat yang sedang dibahas oleh kaum bapak.
30.  Manubu-nubui hata. = mengada-ada, menyiarkan berita bohong.
31.  Dipupusi na mate na mangolu. = Orang mati merampas harta orang hidup. Artinya,  Keluarga yang ditinggalkan orang yang meninggal  menjadi  susah karena yang meninggal itu meningalkan hutang yang harus dibayar.
32.  Tigor do ransang hapit = lurus kayu ransang terjepit. Artinya, orang yang berbuat benar dan tulus bisa saja terjepit, sehingga ia merasa serba salah.
33.  Molo bolak mandar ndang jadi ribahan. = Kain sarung yang lebar janganlah dirobek. Ini mengingatkan agar jika anggota kelompok sudah meluas, janganlah sengaja dibuat terpecah-pecah.
34.  Ndang ditiptip halak ganjangna, ndang diarit balgana. = Tidak akan ada orang yang mengurangi kebesaran dan kehormatannya dalam melaksanakan sesuatu acara.
35.  Tiptip alai sai adong masiganjangi, dosdos alai sai adong mansiboloni. = Walaupun bersaudara tetapi semuanya tidak akan sama jalan pikiran maupun harta kekayaannya
36.  Marnajonok do manghosing na binaen = Hendaklah orang yang lebih dekat hubungan kekerabatan lebih dulu menerima bagian hak adat ( jambar hata, jambar juhut).
37.  Martampuk bulung, marbona sangkalan. Marnata suhut marnampuna ugasan. = Mengingatkan supaya keluarga terdekat lebih berpartisipasi dan bertanggungjawab, jangan terus mengandalkan kerabat yang mereka yang hubungan kekerabatannya jauh.
38.  Sihampir gabe gambir, tandiang gabe toras. Tudia pe ahu so tampil, tudia pe so bolas. = Karena kemiskinannya seseorang itu  tidak masuk hitungan masyarakat di lingkunganya.
39.  Ndang na taraithon tagonan ma pinonggolhon, ndang na tartangishon tagonan ma tinortorhon.= Tidak ada gunanya menangisi susu yang sudah tumpah, lebih baik dibawakan dalam gerakan tarian saja. Artinya, jangan selalu bersedih.
40.  Simanuk-manuk manang sibontar andora, ndada sitodo turpuk siahut lomo ni roha. = Ada kalanya yang terjadi itu di luar kemauan kita dan harus kita terima apa adanya.
41.  Ndang boi sambariba tangan martopap = Tak mungkin hanya bertepuk tangan sebelah.
42.  Songon tuhil, ia pinasak masuk, ia tinait ro. = Bagaikan pahat dipukul; masuk, ditarik kembali. Artinya, janganlah bekerja kalau disuruh, ambil inisiatif.
43.  Hotang binebe-bebe, hotang pinulos-pulos, unang hamu mandele ai godang do tudos-tudos. = Janganlah putus asa, sebab banyak contoh penderitaan serupa di luar sana, bahkan penderitaan mereka lebih berat.
44.  Arga jambar juhut argaan do jambar hata. = Nilai kesempatan menggunakan hak bicara dalam adat lebih mahal dari hak mendapatkan bagian daging.
45.  Jolo diseat hata asa diseat raut. = Lebih dulu diputus kata sebelum diputus pisau. Artinya jangan terus membagikan jambar adat sebelum dimufakati atau sebelum dibicarakan.
46.  Maila raut so dapotan. = Malu pisau tidak melukai . Ini dikatakan untuk melarang keras orang yang suka mempermainkan pisau, sebab bukan tak mungkin akan melukai orang.
47.  Marimbulu natinutungan. = Bebrulu lagi yang sudah dibakar. Artinya keputusan yang sudah disepakati dalam rapat menjadi batal tidak berarti hanya karena salah seorang yang tidak hadir menolak hasil kesepakatan tersebut.
48.  Ndang uasan halak di toru ni sampuran. = Tidak akan kehausan orang di dekat air terjun. Ini dikatakan kepada orang yang berada di tengah-tengah keluarga makmur tidak akan kelaparan
49.  Ulu balang na so mida musu. = Mengaku jagoan dan pemberani tetapi tak pernah berhadapan dengan musuh.
50.  Mulak-ulak songon namangusa botohon. = Berulang-ulang atau bolak-balik bagaikan membersihkan tangan. Artinya, tidaklah salah walaupun apa yang telah diucapkan pembicara terdahulu diulangi lagi oleh pembicara belakangan.
51.  Sidapot solup do na ro. = Pendatang sebaiknya mematuhi atau tunduk pada kebiasaan adat yang berlaku setempat, Tidak boleh mengatakan, wah.. kalau yang berlaku di daeah kami… begini atau begitu.
52.  Marsolup di hundulan. = Posisi kekerabatan seseorang dalam acara adat tergantung aturan yang berlaku, bisa sebagai Hula-hula, sebagai Boru, atau derajat kekerabatan lainnya. Ini dikatakan seseorang yang hubungan kekerabatannya berbagai segi.
53.  Songon na mandege gara. = Bagaikan menginjak bara api. Ungkapan ini merupakan sindiran bagi tamu yang datang sebentar lalu pergi.
54.  Tedak songon indahan di balanga. = Terbuka atau transparan seperti nasi dalam kuali. Artinya tidak ada yang perlu ditutup-tutupi
55.  Na teal so hinallung na teleng so hinarpean. =  Yang berat sebelah tidak dipikul, yang mirik tidak dialasi. Diucapkan mengeritik orang yang angkuh tetapi sesungguhnya tidak ada apa-apanya.
56.  Marsitijur dompak langit, sai madabu do tu ampuan. = Meludah ke langit dengan sendirinya jatuh ke pangkuan. Artinya ; menjelekkan saudara sendiri sama dengan menjelekkan diri sendiri.
57.  Nang pe di bagasan sunuk manuk sabungan, sai tong do martahuak. = Kalaupun terkurung di dalam keranjang, ayam sabung akan tetap berkokok. Artinya, si pemberani itu akan selalu menunjukkan keberaniannya di mana pun ia berada.
58.  Na tinaba ni tangke martumbur, na tinamba ni gana ripur. = Yang ditebang kampak akan bertunas, yang ditebang sumpah mati tak akan berketurunan. Artinya, janganlah sampai termakan sumpah sebab berat risikonya.
59.  Naso matanggak di hata, naso matahut di bohi. = Berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.
*Tahut = takut
60.  Monang di surak-surak, talu di olop-olop. = Keburu bersorak karena dikira sudah menang padahal ternyata kalah.
61.  Talu maralohon dongan, monang maralohon musuh. = Tidak apalah kalaupun kalah/ mengalah terhadap teman asalkan menang melawan musuh.
62.  Marurat tu toru marbulung tu ginjang = Berakar ke bawah berdaun ke atas. Seseorang mempunyai keturunan anak laki-laki dan perempuan.

*Na Porlu Botoon ( Yang Perlu Diketahui ) :
Umpama ima hata tudosan hera sarupa tu Falsafah ni natua-tua. Molo mandok Umpama unang hata ni Umpasa didok jala molo mandok Umpasa unang hata ni Umpama didok.


Lapatan na (Artinya) :
Umpasa adalah Perumpamaan yang mirip dengan Filosofi orangtua. Jikalau memberikan Umpama jangan berikan Umpasa dan sebaliknya, jikalau memberikan Umpasa jangan berikan Umpama.

UMPASA BATAK


Umpasa tu Naposo Bulung  ( Umpasa untuk Muda/Mudi ) :

Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan,
Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.

Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Tobing bahen dongan.

Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan.

Manuk ni pealangge, hotek-hotek laho marpira,
Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.

Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila,
Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba.

Metmet dope sikkoru da nungga dihandang-handangi,
Metmet dope si boru da nungga ditandang-tandangi.

Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do,
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holan ho do.

Rabba na poso ndang piga tubuan lata,
Hami na poso ndang piga na umboto hata.


Umpasa Manjalo Tintin Marangkup ( Umpasa untuk Pasangan Saat 
tukar Cincin) :

Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna,
Nunga hujalo hami tintin marangkup, dohonon ma hata pasu-pasuna.

Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang,
Sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang.

Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere,
Sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere.

Amak do rere, dakka do dupang,
Anak do bere, Amang do Tulang.

Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua,
Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua.


Umpasa tu na Baru Marbagas ( Umpasa kepada Pasangan yang Baru Menikah ) :

Dakka ni arirang, peak di tonga onan,
Badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman.

Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru,
Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot
boru.

Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang,
Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.

Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora,
Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.

Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan,
Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan.

Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari,
Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari.

Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut
Molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut.

Ruma ijuk tu ruma gorga,
Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha.

Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan,
Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan.

Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon,
Sai tubu ma anakmuna sapppulu pitu (17) dohot borumuna sappulu onom (16).

Andor hadukka ma patogu-togu lombu,
Sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu.


Umpasa Mangampu ( Umpasa Mengucapkan Terimakasih ):

Bulung ni Taen, tu bulung ni Tulan,
Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan.
Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon,
Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon.

Ni durung si Tuma, laos dapot Pora-pora.
Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan, Napogos hian iba, boi do gabe mamora.

Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan,
Angka pasu-pasu na ni lehon muna sai dijangkon tondi ma dohot badan.

Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan,
Angka pasu-pasu na pinasahat muna, sai sude mai dipasaut Tuhan.

Naung sampulu sada jumadi sampulu tolu,
Angka pasu-pasu pinasahat muna sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu.

Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu,
Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami, diampu hami ma di tonga jabu.

Turtu ninna anduhur, tio ninna lote,
Angka pasu-pasu pinasahat muna, sai unang ma muba, unang mose.

Habang pidong Sibigo, paihut-ihut Bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.

Obuk do jambulan, nidandan ni boru Samara
Pasu-pasu na mardongan tangiang sian hula-hula mambahen marsundut-sundut soada mara.

Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula
Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami, sai horas ma nang hamu hula-hula.

Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu,
Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu.


Umpasa na Asing ( Umpasa yang Lain ) :

Martahuak ma manuk di bungkulan ni Ruma,
Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna.

Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,
Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe.

Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar,
Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar.

Sinuan bulu sibahen na las,
Tabahen uhum mambahen na horas.

Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.

Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.

Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna,
Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna.

Tuat si puti, nakkok sideak,
Ia i na ummuli, ima ta pareak.

Aek godang tu aek laut,
Dos ni roha sibaen na saut.

Napuran tano-tano rangging marsiranggongan,
Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman.

Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari,
Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari.

Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran,
Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu.

Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura,
Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua.

Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora,
Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha.

*Na Porlu Botoon ( Yang Perlu Diketahui ) :
Umpasa i ma Pasu-pasu manang tangiang na ro sian roha ni na manghatahon Umpasa i asa pasauthon Amanta Debata songon na pinagido ni roha ni na mamasu-masu. Akka jolma na manghatahon Umpasa ikkon tongtong do porsea na Amanta Debata do na gabe mual dohot mangalean Pasu-pasu i.
Penggunaan Umpasa adalah tergantung kepada konteks kegiatan yang dilakukan, ada umpasa untuk orang Menikah, ada Umpasa untuk orang Meninggal, ada Umpasa untuk Paradaton, dan yang lainnya.

Lapatan na (Artinya) :

Umpasa adalah Berkat  berupa Kata-kata, semacam doa, agar keinginan berupa ucapan diluluskan Tuhan. Setiap orang yang mengucapkan Umpasa (Berkat berupa Kata-kata) harus selalu meyakini dalam hatinya bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber dan memberikan berkat-berkat tersebut. 
Pamakkean ni Umpasa i  mamereng tu Ulaon na adong do, adong Umpasa tu Na Mangoli, Marujung Ngolu, Acara Adat dohot na lain.

Selasa, 27 Maret 2012

Why I am so stupid

Pergerakaanku sangat stagnan,
Aku ingin bangun dari tidur dogmatisku ini
Aku sudah tahu ini tidak tepat
Aku ingin merubahnya
Aku tahu bahwa Mereka tidak akan memandang, mengerti, dan mau bekerja  jika hanya melalui ceramah
Aku tahu bahwa Mereka hanya akan memandang, mengerti, dan mau bekerja  jika aku bertindak- memberikan contoh seperti yang kusampaikan pada mereka
Aku ingin memberikan contoh
Tetapi mengapa begitu sangat susah?
Mengapa aku sebodoh ini
Apa lagi salahku?
Aku bahkan sudah tahu kesalahanku, kekuranganku terdahulu
Tapi kenapa aku sangat susah untuk bertindak
Kenapa tanganku sangat susah untuk bergerak, bekerja
Mengapa hanya pikiranku saja yang selalu bergerak bekerja, dapat menemukan?
Mengapa tanganku yang satu ini sangat susah untuk menuangkan pergerakan pikiranku ini diatas kertas stensilan?
Padahal tiap malam pikiranku ini selalu bekerja otomatis dengan sendirinya
Dan selalu bisa menemukan resolusi dari hampir semua masalah?
Tetapi jarang sekali tanganku membuat cetak biru dari hasil pemikiran yang luar biasa ini?
Tak ada harmonisasi…………..!!!!!!!???????
Jika ini masih berlanjut, berarti telah kukhianati prinsipku sendiri, dan aku menambah kesia-siaanku?
Apa yang kuperjuangkan selama ini, yang aku anggap benar (sesuai observasi dan perbandingan yang telah kubuat) harus berakhir sampai disini?,
Hanya karena aku tidak menggerakkan alat-alat yang bekerja dalam system tubuhku sesuai dengan pikiranku dengan harmonis?
Padahal mayoritas waktu sudah kuhabiskan dan kuberikan terhadap yang satu ini?- sama halnya seperti dulu.
Tapi pekerjaanku yang terdahulu masih bisa kuterima karna memang sudah kuperjuangkan sampai akhir walaupun tetap gagal, dan itu bukan pilihanku?
Sedangkan sekarang?, walaupun waktuku sudah kuhabiskan dan kuberikan, tapi tubuhku seperti tak bergerak,
Sepertinya aku hidup sangat lama dan tak melakukan apapun yang berguna,  bagaikan mayat hidup saja kurasakan
 Pastinya takkan bisa kuterima jika ini sampai gagal hanya karna alat-alat tubuhku tak bergerak dengan harmonis dengan pikiranku!
Dimana spirit hidupku?
Seperti ada yang kurang
Sepertinya inspirasiku hilang, tak bisa kutemukan
Kesia-siaanku terdahulu… apakah engkau yang mempengaruhiku?
Apa engkau yang mempengaruhiku hanya karna kutemukan  banyak kebenaran sejati yang tak kuinginkan dari engkau  setelah disembunyikan dalam lubang kecil agar tak kuketahui?
Sudah kucoba mencari inspirasi baru,  tapi tak jua kutemukan- apa dayaku?
Ataukah harus kulaksanakan yang terberat ini?
Menutup duniaku dengan sungguh-sungguh?
Agar engkau tak mempengaruhiku lagi hingga membinasakan harmonisasi?
Dan harus menanggung resiko yang paling pahit?

Sudah kulakukan sebisaku untuk melakukan apa yang mereka inginkan
Berbuat ini, berbuat itu
Walapun seringkali bermacam-macam dan berganti-ganti (sekarang a, nanti b, besok a, besoknya lagi b)
Hampir semua serba salah

02.30 A.M
June, 15th 2011